foto

foto

Kamis, 04 Februari 2021

MEWAJIBKAN SELURUH SISWI MENGGUNAKAN JILBAB BERAKIBAT LAHIRNYA SKB 3 MENTERI

PEMERINTAH AKAN MENUNJUKKAN SIKAP TEGAS TIDAK MEMIHAK KE SATU AGAMA


KAYAKNYA SIH gara gara pristiwa di Padang,  ada sebuah sekolah yang siswinya mayoritas Muslim, tetapi ada juga yang non Musli, lalu siswi yang non Muslim ini di wajibkan juga untuk memakai jilbab seragam seperti kawan kawannya yang Muslim, siswi ini keberatan bahkan mempermasalahkannya mengingat sekolah ini afalah sekolah binaan Depdikbud maka Pusat merasa perlu untuk mengantisipasi segala sesuatunya agar tetap kondusif. Maka lahirlah SK Bersama (SKB) 3 Menteri meliputi Kemnetrian Pendidikan, Kementerian Agama, dan  Kemnetrian Dalam Negeri. Salah satu unsur dari keputusan tersebut adalah melarang  atau tidak membenarkan Siswa dan juga Pendidik untuk Diwajibkan Seragam yang melambangkan  keagamaan tertentu.  Tenrtuy saja kita semua belum memahami isi Keputusan itu, dan nanti tentunya  akan muncul berbagai pertanyaan, dan dari pertanyaan pertanyaan itu akan melahirkan berbagai pembatasan pembatasan baru lagu.  

Besar kemungkinan ini nanti akan menjadi pembahasan yang cukup panjang dan akan menyentuh berbagai masalah yang selama ini masih tersimpan dan nantinya akan diungkap dalam pembahasan itu.  Seperti yang kita ingat dahulu bahwa proses pembolehan pemakaian jilbab di sekolah sekolah umum itu melalui sebuah proses p-erjuangan selama bertahun tahun. Sudah banyak sekali siswi yang dikeluarkan paksa dari sekolah, walau semula perselisihan itu diawali dari sikap tegas Guru Olahraga kepada siswinya yang bertahan untuik memakai kudungnua dan ada yang tidak mau menggunakan pakaian Olahraga Wanita dalam bentuk celana olah raga yang berukuran pendek itu.  Jika tak salah ingat untuk menyelesaikan masalah kudung dan pakaian olahraga siswi wanita di sekolah itu membutuhkan beberapa periode Kepemimpinan Presiden Soeharto baru tuntas, karena pada saat itu ayuran yang adalah siswa siswi harus menggunakan pakaian seragam. Alhamdulillah perjalanan dan perjuangan panjang itu baru terselesaikan setelah berkali kali berlangsungnya tahun ajaran baru dan pembuatan pakaian seragam. 

Tidak tertutup kemungkinan ketika SKP 3 Menteri ini ketika akan dilaksanakan justeru kan muncul berbagai permasalahan dan diskusi yang panjang, dan tidak tertutup kemungkinan munculnya berbagai pendapat yang subjektif dari para pihak. Yang kita memang tak habis berfikir bagaimana mungkin hari hari siswa siswi lebih banyak dirumahkan itu justeru yang muncul adalah masalah pemakaian jilbab bagi  siswi wanita. Bukankah demikian banyak permasalahan yang dihadapi oleh semua siswa karena mereka tak akan mampu mencapai hasil pendidikan  seperti yang diharapkan.  Walaupun siswa sudah dib agi pulsa secara merata tetapi tetap saja inti pembelajaran tak mampu mereka terima. 

Dan ini semua nanti akan menjadi lebih ramai dibahas di dunia maya, apalagi jika nanti akan ada pihak pihak yang meniupkan sesuatu yang sulit dibuktikan. Karena semenjak dibentuknya buzer  justeru sipembentuknya kualahan menghentikannya. Tidak kurang  dari seorang jenderal yang meminta agar Buzer membubarkan diri, ternyata buzer tak dibayarpun, dan ketika cyber cyber di tangkapi dan diadili. Ternyata dunia maya tak pernah sunyi. Memang ada diantara mereka yang hanya cari lucu lucunya saja, tetapi sesekali meletup postingan yang bisa membuat heboh. Dan bahkan mengancam persatuan. 

Untuk itu maka sebagai bangsa yang bergama maka berdoalah meminta perlindungan Nya dari segala jenis perpecahan hingga perpecahan yang sekecilnya. Tentu saja Tuhan akan memperhatikan doa kita selama kita masih berusaha untuk melaksanakan segala ajaranNya serta meninggalkan semua laranangNya.  karena tidak perjuangan yang mudah untuk dicapai. Dan semoga kita termasuk Bangsa yang Beruntung. Aamiin. YRA. 

Wallohui a'lam bishowab. 

 

Rabu, 03 Februari 2021

JADI PRESIDEN ITU GAMPANG ?

YUDI PRAMUKO BERANI MENGHAYAL


YOUTUBER TERTUA di dunia di dunia, setelah beberapoa lama menjadi Youtuber dan mengikuti perkembangan politik  di Indonesia  dan mempertajam analisanya  politiknya  maka Dia berkesimpulan jadi Presiden itu gampanglah,  gampang banget gak usah terlalu banyak mikir karena jika sudah jadi Presiden orang orang akan berusaha akan mendekat, ada yang mendekat dengan ilmunya dan ada yang mendekat uang banyak yang dimilikinya dan ada yang mendekat dengan banyaknya dukungan, serta tak terbilang banyaknya orang uang mendekat dengan ketiadaan modal selain ngibul dan  Carmuk serta tak malu malu berbohong dan carmuk. Mereka datang tampa diundang, itu kira kira pikir Yudi Pramuko yang sekarang berjualan donat  selain menjadi Youtuber tertua di semesta. Di jamin heboh jika hayalan Yudi Pramuko beneran berhasil duduk di Kursi Kepresidenan. Tampa ada satu partaipun yang diganggu, seberapapun elektabilitasnya.  

Tetapi Yudi Pramuko yang sudah mengantongi ijazah kesarjaan serta mengantongi setrifikat keberhasilannya di Kampung Inggris, bukan hanya belajar bahasa tetapi juga dinyatakan lulus dengan baik mengikuti program ini. Walupun bukan ahli pertambangan, tetapi beliau sudah mengalirkan kekayaan tambang di bumi pertiwi ini serta mengalirkan hasilnya ke keluarga miskin hanya dengan biaya yang sangat sedikit dari kocek rakyat jelata. Hari hari Yudi Pramuko dihabiskan dengan upaya menyelamatkan terutama para lansia, para lansia ini berhasil di didik menjadi generasi Qurani, tak segan segan beliau menerima para lansia itu sekedar belajar Iqrok, serta menambayh koleksi hapalannya. Tak sedikit mereka para lansia itu berhasil lulus Iqrok Enam. Sudah beberapa kali tamu tamu di Studionya melaksanakan pembicaraan dengan bahasa Pengantar Bahasa Inddris. Kawan kawan Yudi Pramuko bukan orang sembarangan. 

Yudi Pramuko berusaha membuka mata masyarakat dengan cara bersentuhan langsung dengan alam terbentang, beliau ingin menegaskan bahwa wahyu yang diturunkan Allah lewat utusan Nya hanya terbatas sekali, tetapi wahyu itu disampaikan secara langsung justeru melalui alam yang terkembang ini, itulah sebabnya dia jarang menggunakan studionya  tetapi dia memanfataankan sebuah danau berhektar hektar luasnya, dia ingin mengatakan  bahwa berjuta pasang mata telah terbeliak ingin memiliki tanah seluas itu di pinggiran kota, dia ingin membagikan lokasi itu kepada rakyat kecil media  untuk bisa  merenungi rezeki dan rahmat Allah untuk disyukuri secara mendalam. 

Yudi Pramuko sejak lama sudah mencatat sejumlah nama dan kisah teladan yang toreh dalam dalam hidup mereka, dan tidak sedikit mereka itu dikenal sebagai pemimpin yang cemerlang. Dalam memimpin banyak sekali para pemimpin yang mengira bahwa dia akan tercatat sebagai orang orang baik manakala berhasil mengumpulkan kekayaan bagi anak anaknya dan sejumlah sahabatnya. Yah. memang dia akan tercatat sebagai  ayah atau orang tua yang baik, serta sahabat yang baik. Tetapi ketahuilah dia tak pernah menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin bisa membagikan kesejahteraan yang merata serta memiliki hak hak civics secara full. Yudi Pramuko  berkeyakinan  manakala aturan yang ada memberikan kebebasan para pihak menampilkan calon calon yang berkualitas, karena aturan yang ada sekarang justeru berpotensi untuk memborong semua partai serta menyisakan partai yang bersikap opposisi, serta berusaha keras melemahkan partai itu sehingga mudah untuk dibajak oleh tokoh tokoh yang lagi nganggur. 

Yudy Pramuko tidak mau muncul sebagai  tokoh yang menjadi Pimpinan Parttai dengan cara yang tak berkeringat, tetapi Yudi Pramuko ingin berbasah basah terlebih dahulu, barui mencalonkan diri sebagai Presiden sesuai aturan yang demokratis, biarkan dia bekerja dengan berbasah basah karena Beliau sedang mewakafkan sudah banyak jumlah sumur yang diberikan kepada orang orang yang berada di daerah tandus, Semoga airnya bisa manfaatkan hingga akhir zaman, dan mengalir deras agar menjadi jalan menuju Syurganya Allah untuk mencapai kebahagiaan yang murni dan badi. 

Wallohua'lam bishowab. 

Selasa, 02 Februari 2021

GURU NON MUSLIM MENGAJAR DI MADRASAH.

             MADRASAH ITU HARUS MENGGAMBARKAN KEISLAMAN

MENGEJUTKAN KETIKA  siketahui  di Indonesia Bagian Timur sana ada seorang guru yang bukan pemgamut Islam, Non Muslim mengajar di sebuah Madrasah  Tetapi konon katanya memang ada Peraturannya bahwa Madeasah boleh menunjuk Guru Non Muslim untuk bertugas di Madrasah  utamanya jika memang ternyata Madrasah tersebut dianggap masih kekuranganb Guru atau membutuhkan Guru mata pelajaran itu dan ternyata sedang terjadi kekosongan, mungkin  juga untuk menghindari guru jurusan lain menyajikan mata pelajaran yang lain lagi, sehingga nilai profesionalitasnya dirasakan kurang. Barangkali logikanya begitu.

Dahulu pernah muncul peraturan bahwa anak anak sekolah harus diberikan mata pelajaran Agama yang ampu oleh Guru Yang beragama sama. Lalu pihak Islam. Pemerintah menggariskan demikian, Maka muncullah gagasan untuk meminta kepada kepada Sekolah Sekolah Swasta yang dikelola Yayuasan Kristen/ Katholik dimana di banyak tempat disekolah sekolah tersebut justru musrid yang bergama Islam jeuh lebih banyak  dari yang lain disetiap kelasnya. Tetapoi pada saat itu rupanya masih belum bisa direalisasiukan. Dan bahkan sampai sekarang. 

Beda mata pelajaran agama, beda pula pelajaran umum. Di  bawah kepemimpinan Menteri Agama yang sekarang nampaknya komunikasi lebih lancar. Ya ... memang nampaknya Meneteri Agama kita memiliki kelebihan yaitu kedekatan hubungannya personal  dengan Non Muslim sehingga akan lebih lancar. Namun harapan kita tentunya itu jika terjadi ketiadaan guru mata pelajaran itu yang beragama Islam . Mengingat banyak juga alumni UIN atau semacamnya Fakultas Tarbiyah dengan berbagai jurusan mata pelajaran umum. Selain jurusan Pendidikan Agama Islam ada juga jurusan jurusan Umum seperti matematika, biologi  dan lain sesuai dengan kebutuhan  dan aturan Kurikulum yang berlaku. Tentu kita berharap  agar Kemenag bisa membantu apara alumni Tarbiyah dari berbagai jurusan umum bisa mendapat tempat di sekolah sekolah  umum baik Nwegeri maupun Swasta. 

Hanya saja tentu kita berharap agar para guru Non Muslim yang bertugas di Madrasah agar bisa menyesuaikan diri. Bahwa Madrasah    

(resesensi buku) MEMASUKI DUNIA ANAK ANAK

 Oleh Sariyyul Hikmah (Rakyat Sumbar, 12-13 Mei 2018)


Alona Ingin Menjadi Serangga ilustrasi Google

ANAK ibarat kertas putih yang siap ditulis apa saja oleh orang tuanya, menjadikan baik buruk tergantung didikannya, karena anak cenderung meniru apa yang dilihat di sekitarnya. Kelucuan anak kadang menjadi hiburan tersendiri.

Di zaman sekarang ini, anak sering kali menjadi korban, pelecehan seksual, bully-an teman hingga mengakibatkan kematian dan karena uang anak juga dijadikan objek pencari uang bahkan dibuang.

Di buku ini Mashdar Zainal berusaha memasuki pikiran anak-anak dan mencoba memahami dunia mereka melalui celotehan mereka. Ya, setelah membaca kumpulan cerpen yang berjumlah 14 cerita pendek yang seluruhnya pernah dipublikasikan di media cetak nasional ini berkisar tentang anak, bahkan saya mengira buku ini kumpulan cerita anak. Namun sudut pandang yang digunakan oleh penulis dengan teknik kepenulisan yang khas membuat tulisan ini menjadi karya sastra yang luar biasa.

Dari seluruh cerpen yang ada berhasil mengaduk emosi saya. Seperti cerita yang berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga, menceritakan seorang anak yang dihukum mamanya tidur di luar rumah karena terlambat pulang sekolah dan sang mama tidak menerima alasan kalau ia menunggu hujan reda. Semalaman Alona berselimut dingin dengan rasa lapar yang melilit dan hukuman-hukuman fisik selalu ia terima dari mama jika melakukan kesalahan. Saat itu Alona melihat dua serangga besar dan kecil berjalan beriringan seperti saling melindungi. Alona mengibaratkan mama dan dirinya, ia merindukan memiliki mama seperti mama teman-temannya yang menyayangi anaknya. Di akhir cerita Alona menghilang yang ada hanyalah serangga. (hal.6)

Dalam Kamar Mandi, mungkin cerita ini mengingatkan kita pada masa anak-anak bahkan juga masih berlangsung hingga sekarang. Menceritakan seorang anak yang berak di celana, karena ketakutan dimarahi guru dan diejek teman-temannya, ia memilih mengurung diri di dalam kamar mandi. Di sinilah uniknya cerita ini, penulis mencoba memasuki pikiran anak tersebut, bahwa anak itu menyayangkan dirinya yang tak mampu mencuci pakaiannya, andaikata ia bisa mencuci sendiri maka ia bisa mencucinya sekarang, memerasnya hingga kering kemudian memakainya kembali. Dari masalah inilah si anak berjanji untuk belajar mencuci agar saat berak di celana ia tak perlu ketakutan lagi. (hal. 34)

Dekapan Sunyi Ayah, menceritakan seorang anak yang merindukan sosok ayah. Setiap ia bertanya pada ibu bagaimana ayahnya, ibunya selalu menjawab ‘ayah seperti sebuah rumah’. Ibunya berusaha melukiskan bagaimana sosok seorang ayah yang tangguh dan selalu melindungi, dari terik, hujan dan ancaman, hingga akhirnya mereka tak berdaya ketika rumah mereka dirobohkan badai, saat itu si anak merasakan ayah mendekapnya. (hal. 80)

Cerita yang juga tak kalah menyedihkan, Pasar Malam, di mana seorang gadis kecil diperintahkan mamanya untuk tetap berdiri dengan membawa selembar kertas di dekat pagar yang mengitari kincir raksasa. Gadis kecil itu tak menyadari kalau mama membuangnya, yang ia tahu mamanya pergi sebentar untuk membelikannya kembang gula dan gadis kecil itu ingat pesan mama jika ada yang bertanya ‘Mama di mana?’ maka ia boleh memberikan kertas itu pada orang tersebut. (hal. 123)

Dan masih banyak lagi cerita lainnya yang menginspirasi berkaitan dengan kehidupan anak, seperti Kampung Lapar, Dunia Danar, Uban, Eufoni Samawi, Laron, Ulat Bulu dan Kupu-kupu, Petani Dongeng, Katastrofa, Mariposa dan Hikayat Sebatang Pohon Asam, yang dikemas sangat unik.

Membaca buku ini membuat saya juga tenggelam dalam pikiran anak-anak dan giliran pembaca menyelami pikiran mereka yang lugu. (*)

 

JUDUL : Alona Ingin Menjadi Serangga

PENULIS : Mashdar Zainal

PENERBIT : UNSApress

TAHUN TERBIT : November 2015

TEBAL : 145 Halaman 13,5 cm x 20 cm

ISBN : 978-602-71176-5-5

Sumber : Mingguan Kompas, download 3 Feb 2021

Senin, 01 Februari 2021

RUMAH TACHFIZ AL QURAN ARUS DARI BAWAH.

 

Buku Rumah Tahfidz

Foto: Tangkapan Layar

Rumah Tahfizh menjadi episentrum baru bagi masyarakat yang berminat belajar Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, Tertuang di dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 91/2020, bahwa Rumah Tahfizh adalah satuan pendidikan keagamaan Islam non-formal yang mengkhususkan untuk menghafal, mengamalkan, dan membudayakan nilai-nilainya dalam sikap hidup sehari-hari yang berbasis hunian, lingkungan, dan komunitas.


Rumah Tahfizh, nyatanya, telah lahir, tumbuh, dan berkembang, bahkan 
sebelum dua aturan tersebut hadir. Lebih “heroik” dari itu, entitas pendidikan 
bernama pondok pesantren bahkan lahir dan berkembang sebelum 
republik ini lahir. Rumah Tahfizh lahir dari inisiatif, ide kreatif, 
dan dari cita-cita mulia sekelompok masyarakat yang terpanggil 
untuk berpartisipasi dalam pembangunan manusia melalui jalan 
pendidikan Alquran di berbagai pelosok negeri.

Sudah menjadi tugas dan wewenang negara, untuk selanjutnya mengafirmasi, merekognisi, dan memfasilitasi sesuai dengan aturan yang ada. Rumah Tahfizh sekilas memiliki historisitas yang menyerupai pesantren.

Di dalam sejarahnya, awal kehadiran pesantren disebut sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, saat semua individu yang memiliki keturunan bangsawan dididik dalam lembaga pendidikan kraton (Abdurrahman Wahid, 1999:111). Dalam kadar tertentu, pun demikian dengan Rumah Tahfizh.

Rumah Tahfizh menjadi semacam episentrum baru bagi semua lapisan masyarakat yang memiliki minat kuat untuk belajar Alquran (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), tetapi memiliki kendala jika harus di Pesantren Tahfizh Alquran. Rumah Tahfizh hadir menampung semua lapisan masyarakat dari beragam latar belakang sosial, ekonomi, bahkan dari beragam usia.

Di dalam buku berjudul Rumah Tahfizh: sejarah, gerakan, dan dinamika membumikan tahfizh Alquran dari Yogyakarta, yang ditulis oleh Ustadz Tarmizi As Shidiq, dengan fasih diuraikan secara memadai perihal historisitas gerakan dan dinamika perjuangan membumikan tahfizh Alquran melalui Rumah Tahfizh. Buku ini mulanya adalah karya akademik penulisnya, yang diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Jakarta, guna menyelesaikan pendidikan jenjang pascasarjana.

Disebutkan oleh penulis, gerakan Rumah Tahfizh yang kini dikenal luas oleh masyarakat, diinisiasi pertama kali oleh Ustadz Yusuf Mansur pada medio 2003. Setelah melalui perjuangan yang tidak enteng, pada tahun 2018, Rumah Tahfizh Daarul Qur’an telah mencapai 1.027 dengan jumlah santri setidaknya 50.178 santri.

Rumah Tahfizh Daarul Qur’an yang berjumlah 1.027, tersebar di seluruh penjuru pelosok negeri, bahkan di beberapa kota di luar negara. Ia setiap saat mendarmabaktikan kehadirannya untuk memberikan penerangan agama (Islam) di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Ia menjadi sentra-sentra pendidikan Alquran yang siap sedia menyapa dan disapa oleh siapa pun dan kapan pun.

Dari sekian banyak jumlah Rumah Tahfizh Daarul Qur’an yang ada, Ustadz Tarmizi melakukan zoom in terhadap 14 Rumah Tahfizh yang ada di Kota Pendidikan Yogyakarta. Yang menarik, penulis mengajukan beberapa dalil sehingga memilih lokus penelitiannya di Yogyakarta. Dengan berlandas sumber-sumber otoritatif, penulis menandaskan bahwa Yogyakarta adalah kota dengan pluralitas sistem kepercayaan sangat tinggi (terdapat 79 sistem kepercayaan).

Pada sisi lain, pada 2014 Yogyakarta dinobatkan sebagai “Kota Paling Islami” oleh lembaga Maarif Institute. Di sinilah relevansinya, mengapa Rumah Tahfizh Yogyakarta menjadi pilihan fokus studi Ustadz Tarmizi.

Gampangnya, predikat kota paling Islami, patut diduga kuat tak dapat dilepaskan dari budaya mempelajari Alquran. Dan Rumah Tahfizh, adalah piranti strategis untuk hal itu.

Sumber Republika co.id

download Selasa 3 Februari 2021. 

BELAJAR AGAR TIDAK MUDAH JADI KORBAN BUJUK RAYU POLITISI

 



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra

Penulis: Nurudin
Judul: Komunikasi Politik dalam Masyarakat tidak Tulus
Penerbit: Prenanda Group
Tahun: 2020
Tebal: 198 halaman

Kewarasan masyarakat diuji ketika Indonesia memasuki tahun politik. Pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilres) 2019, misalnya, masyarakat terbelah menjadi dua kubu mengikuti dua calon presiden (capres) yang maju, yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Polarisasi tidak hanya terjadi terjadi di dunia nyata, juga merembet ke dunia maya.

Bahkan lebih kencang terjadi pembelahan di dunia maya, khususnya di Twitter yang ditandai perang tanda pagar (tagar) atau hashtag. Kedua pendukung capres saling menaikkan tanda pagar demi menaikkan popularitas kandidat yang disukainya.

Kondisi itu juga dibarengi dengan saling serang pribadi dan caci maki yang mewarnai media sosial (medsos). Bahkan ada yang sampai memutus pertemanan gara-gara terlalu semangat membela capres yang didukungnya.

Kedua pendukung capres seolah lepas kendali ketika mencoba mempromosikan kandidat di dunia maya. Etika tidak dijaga. Semua uneg-uneg ditumpahkan tanpa disaring. Hal itu membuat masyarakat ikut terbawa suasana perebutan kekuasaan.

Komunikasi Politik dalam Masyarakat tidak Tulus hadir untuk menganalisis praktik elite politik, yang manuvernya bisa ikut menyeret emosi di akar rumput. Buku ini berisi 43 artikel yang sudah dimuat di berbagai media, yang isinya memang tidak jauh dari dunia politik.

Meski ada beberapa tulisan yang peristiwanya sudah berlalu sehingga informasi yang disajikan terkesan ketinggalan zaman, namun bagi pembaca hendaknya hal itu malah bisa dijadikan media pembelajaran. Bukan peristiwanya yang menjadi fokus utama, melainkan konflik di dunia politik yang perlu dipelajari supaya masyarakat tidak menjadi korban politisi yang hanya mengejar ambisi pribadi.

Salah satu yang mendapat sorotan penulis adalah peran parpol yang begitu dominan dalam perebutan kekuasaan dari level pusat hingga daerah. Parpol berperan strategis dalam kehidupan kenegaraan Indonesia, karena setiap kandidat yang ingin maju sebagai anggota dewan, wali kota/bupati, gubernur, maupun presiden dan wakil presiden harus diajukan parpol.

Untuk menjadi kepala daerah memang bisa lewat jalur independen, namun hal itu butuh persyaratan administrasi yang berat sehingga sulit dipenuhi. Di sinilah peran penting parpol sebagai kendaraan dan tiket calon yang ingin menjadi kepala daerah maupun kepala negara.

Sayangnya, parpol yang bertugas merekrut dan mencetak kader terbaik di bidang politik seolah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Buktinya, dalam setiap perhelatan pilkada kerap kali parpol masih mengusung eks narapidana maupun tersangka korupsi. Apa parpol kekurangan orang untuk diusung menjadi calon pemimpin? Mengapa dengan banyaknya figur di masyarakat yang bersih dan memiliki rekam jejak teruji, parpol malah memprioritaskan orang bermasalah?

Tentu saja ada berbagai pertimbangan yang dipilih pimpinan parpol hingga rekomendasi jatuh ke tangan orang yang pernah atau sedang tersangkut kasus hukum. Bisa pertimbangan uang, kekerabatan, koneksi, maupun faktor pragmatis, yaitu peluang menang lebih besar. Toh, masyarakat juga abai juga meski calon yang dipilihnya pernah terjerat hukum, faktanya tidak sedikit daerah yang kandidat seperti malah menang.

Namun, di sinilah yang perlu dikritisi. Jika parpol masih menutup mata dengan pemilihan calon pemimpin untuk dimajukan duduk di kursi legislatif maupun eksekutif maka konsekuensinya bukan orang terbaik yang mengelola pemerintahan. Padahal, ada adagium maju mundurnya sebuah negara ditentukan dengan kualitas parpol pula.

Selama ini, politisi hanya menjadikan masyarakat sebagai pendulang suara semata. Ketika keinginan sudah diperoleh, masyarakat dilupakan begitu saja. Jangan sampai masyarakat menjadi korban ambisius seseorang yang berupaya meraih kekuasaan dengan segala cara, namun malah nantinya tidak pernah mewujudkan aspirasi masyarakat.

Hal seperti itu sebenarnya sudah berulang kali terjadi. Namun, masalahnya juga tidak sedikit yang enggan belajar dari pengalaman sebelumnya. Alhasil, lagi dan lagi masyarakat menjadi tumbal kepiawaian mereka yang beratraksi di panggung politik.

Belajar tentang politik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk itu, hendaknya setiap orang tak mudah terjebak rayuan gombal politisi yang siap menawarkan berbagai janji setinggi langit. Pasalnya sudah terbukti, mereka kerap lupa dan abai dengan kepentingan masyarakat ketika apa yang diinginkan sudah tergapai, entah itu jabatan, pangkat, atau kekuasaan.

Mengapa hal itu terjadi? Semuanya tidak bisa dilepaskan dari kondisi Indonesia yang mengalami involusi perubahan politik. Ada perubahan tetapi tidak banyak menyentuh subtansi isi. Itu disebabkan karena berkembangnya komunikasi politik dalam masyarakat yang tidak tulus. Komunikasi politik model itu ibarat lingkaran setan yang saling berkait dan tak mudah untuk diurai.

Buku karya dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengkaji berbagai sudut pandang peristiwa di sekitar masyarakat untuk dijadikan dasar kerangka kebijakan di masa datang. Buku ini juga sebagai salah satu upaya ke arah itu, meskipun rumit, pelik, dan jalan berliku. Tentu setiap orang tidak ingin menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama tiga kali.

Begitulah kewaspadaan patut ditingkatkan bagi mereka yang skeptis dengan politisi supaya tidak sakit hati ketika janji yang diucapkan tidak pernah direalisasikan. Dari buku ini, pembaca bisa belajar memahami politik secara integral supaya tidak mudah menjadi korban rayuan politisi.

Dikutip Hari Selasa 3 Februari 2021  oleh admin. 


WASPADAI ABU JANDA

                                            
                  ISLAM AKAN DIRUSAK DARI DALAM                    OBRAK ABRIK NU SEBAGAI LANGKAH AWAL


HERSUBENO ARIEF
  sebagai seorang Wartawan Senior yang kawakan ini juga terkenal sebagai pasangan dari pengamat politik dan pakar Filsafat dar UI, tetapi dalam chanel ini Hersubeno tampil sendiri dalam Hersubeno Point Chanel, sepertinya beliau belum ingin melibatkan orang lain dalam membicarakan masalah yang sangat sensitif ini. Sudah lama orang orang merasakan bahwa Islam dalam ancaman perpecahan karena terhembus upaya untuk saling membenci antara Islam yang satu dengan Islam lainnya. Dan itu memang merupakan hasil hasiul seminar yang diselenggarakan Yahudi Amerika dengan thesis thesis mereka yang bisa terkenal dalam waktu singkat. Orang orang meyakini ditubuh Islam Islam akan disusupi person penyebar fitnah. Tetapi pengamat belum ada yang berani menyebut nama.

Tiba tiba muncul nama Abu Janda (nama samaran) dia dikenal sebagai aktivis medsos, tetapi belakangan Dia banyak muncul dengan atribut atribut Kader NU, sebagai Organisasi Terbesar Islam di Indonesia. Di Medsos sendiri Abu Janda dikenal sebagai loyalis Jokowi hingga Berhasil menjadi Presiden, cuitan cuitan dan konten yang dikembangkan nampaknya agak lebif fokus tentang Islam radikal, Islam Intoleran, Anti NKRI, dan lain lain seperti yabf dikenal sebagai rumusan rumusan hasil seminar Yahudi-Amerika. Folower Abu Janda itu melejit di atas rata rata. Sehingga apa yang dilemparkan via medsos disambut oleh warga netizen dengan membanjirnya folower. Sebenarnya sudah banyak tokoh tokoh Islam yang merasa cemas dengan pengaruh buruk  dari aksi Abu Janda ini, tetapi nampaknya mereka sulit untuk mencari tokoh Muslim yang mana yang bisa menasehati Abu Janda agar bisa mengontrol gayanya Abu Janda ini. Apalagi nampaknya Dia namapok demikian akrab dengan sejumlah orang yang dikenal kurang ramah terhadap Islam. 

Tiba tiba Abu JUanda dipolisikan oleh KNPI dan jajarannya sehubungan pernyataan yangf berbau rasis, lalu sejumlah Parpol ikut mendukung, Bahkan sebelumnya NU menyatakan bahwa Abu Janda tidak mewakili NU dan tidak menggambarkan prilaku Kader Nahdiyin. Abu Janda yang mengaku mendapatkan penghasilan yang cukup besar dengan aktiuvitasnya di medsos ini nampaknya tak urung harus berhadapan dengan pihak yang berwajib. 

Hal ini kita serahkan saja kepada aparat hukum, tetapi yang paling penting harapan kita adalah pristiwa ini bisa menyadarkan yang bersangkutan atas beberapa kesalahannya yang ternyata bisa merusak kesatuan persatuan baik Nasional dan juga internal Islam, jangan sampai merugikan ummat Islam dengan segala perpecahan. Dan juga yang tak kalah pentingnya adalah agar kader kasder Islam jangan sampai mengikuti jejaknya, berapapun imbalan yang diiming imingkan, dari pihak manapun. Kita yakin lembaga lembaga Islam akan mampu mengevaluasi prilaku kadernya. Dan kita berdoa agar tidak ada kader Islam yang menghamba hamba kepada pihak non Muslim yang memang berniat untuk menghancurkan Islam dari dalam. Semoga Allah menuntun kita semua, hingga mencapai keselamatan untuk bersama. Aamiin.

Wallohu a'lam bishowab.