foto
Kamis, 04 Februari 2021
MEWAJIBKAN SELURUH SISWI MENGGUNAKAN JILBAB BERAKIBAT LAHIRNYA SKB 3 MENTERI
Rabu, 03 Februari 2021
JADI PRESIDEN ITU GAMPANG ?
YOUTUBER TERTUA di dunia di dunia, setelah beberapoa lama menjadi Youtuber dan mengikuti perkembangan politik di Indonesia dan mempertajam analisanya politiknya maka Dia berkesimpulan jadi Presiden itu gampanglah, gampang banget gak usah terlalu banyak mikir karena jika sudah jadi Presiden orang orang akan berusaha akan mendekat, ada yang mendekat dengan ilmunya dan ada yang mendekat uang banyak yang dimilikinya dan ada yang mendekat dengan banyaknya dukungan, serta tak terbilang banyaknya orang uang mendekat dengan ketiadaan modal selain ngibul dan Carmuk serta tak malu malu berbohong dan carmuk. Mereka datang tampa diundang, itu kira kira pikir Yudi Pramuko yang sekarang berjualan donat selain menjadi Youtuber tertua di semesta. Di jamin heboh jika hayalan Yudi Pramuko beneran berhasil duduk di Kursi Kepresidenan. Tampa ada satu partaipun yang diganggu, seberapapun elektabilitasnya.
Selasa, 02 Februari 2021
GURU NON MUSLIM MENGAJAR DI MADRASAH.
(resesensi buku) MEMASUKI DUNIA ANAK ANAK
Oleh Sariyyul Hikmah (Rakyat Sumbar, 12-13 Mei 2018)
ANAK ibarat kertas putih yang siap ditulis apa saja oleh orang tuanya, menjadikan baik buruk tergantung didikannya, karena anak cenderung meniru apa yang dilihat di sekitarnya. Kelucuan anak kadang menjadi hiburan tersendiri.
Di zaman sekarang ini, anak sering kali menjadi korban, pelecehan seksual, bully-an teman hingga mengakibatkan kematian dan karena uang anak juga dijadikan objek pencari uang bahkan dibuang.
Di buku ini Mashdar Zainal berusaha memasuki pikiran anak-anak dan mencoba memahami dunia mereka melalui celotehan mereka. Ya, setelah membaca kumpulan cerpen yang berjumlah 14 cerita pendek yang seluruhnya pernah dipublikasikan di media cetak nasional ini berkisar tentang anak, bahkan saya mengira buku ini kumpulan cerita anak. Namun sudut pandang yang digunakan oleh penulis dengan teknik kepenulisan yang khas membuat tulisan ini menjadi karya sastra yang luar biasa.
Dari seluruh cerpen yang ada berhasil mengaduk emosi saya. Seperti cerita yang berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga, menceritakan seorang anak yang dihukum mamanya tidur di luar rumah karena terlambat pulang sekolah dan sang mama tidak menerima alasan kalau ia menunggu hujan reda. Semalaman Alona berselimut dingin dengan rasa lapar yang melilit dan hukuman-hukuman fisik selalu ia terima dari mama jika melakukan kesalahan. Saat itu Alona melihat dua serangga besar dan kecil berjalan beriringan seperti saling melindungi. Alona mengibaratkan mama dan dirinya, ia merindukan memiliki mama seperti mama teman-temannya yang menyayangi anaknya. Di akhir cerita Alona menghilang yang ada hanyalah serangga. (hal.6)
Dalam Kamar Mandi, mungkin cerita ini mengingatkan kita pada masa anak-anak bahkan juga masih berlangsung hingga sekarang. Menceritakan seorang anak yang berak di celana, karena ketakutan dimarahi guru dan diejek teman-temannya, ia memilih mengurung diri di dalam kamar mandi. Di sinilah uniknya cerita ini, penulis mencoba memasuki pikiran anak tersebut, bahwa anak itu menyayangkan dirinya yang tak mampu mencuci pakaiannya, andaikata ia bisa mencuci sendiri maka ia bisa mencucinya sekarang, memerasnya hingga kering kemudian memakainya kembali. Dari masalah inilah si anak berjanji untuk belajar mencuci agar saat berak di celana ia tak perlu ketakutan lagi. (hal. 34)
Dekapan Sunyi Ayah, menceritakan seorang anak yang merindukan sosok ayah. Setiap ia bertanya pada ibu bagaimana ayahnya, ibunya selalu menjawab ‘ayah seperti sebuah rumah’. Ibunya berusaha melukiskan bagaimana sosok seorang ayah yang tangguh dan selalu melindungi, dari terik, hujan dan ancaman, hingga akhirnya mereka tak berdaya ketika rumah mereka dirobohkan badai, saat itu si anak merasakan ayah mendekapnya. (hal. 80)
Cerita yang juga tak kalah menyedihkan, Pasar Malam, di mana seorang gadis kecil diperintahkan mamanya untuk tetap berdiri dengan membawa selembar kertas di dekat pagar yang mengitari kincir raksasa. Gadis kecil itu tak menyadari kalau mama membuangnya, yang ia tahu mamanya pergi sebentar untuk membelikannya kembang gula dan gadis kecil itu ingat pesan mama jika ada yang bertanya ‘Mama di mana?’ maka ia boleh memberikan kertas itu pada orang tersebut. (hal. 123)
Dan masih banyak lagi cerita lainnya yang menginspirasi berkaitan dengan kehidupan anak, seperti Kampung Lapar, Dunia Danar, Uban, Eufoni Samawi, Laron, Ulat Bulu dan Kupu-kupu, Petani Dongeng, Katastrofa, Mariposa dan Hikayat Sebatang Pohon Asam, yang dikemas sangat unik.
Membaca buku ini membuat saya juga tenggelam dalam pikiran anak-anak dan giliran pembaca menyelami pikiran mereka yang lugu. (*)
JUDUL : Alona Ingin Menjadi Serangga
PENULIS : Mashdar Zainal
PENERBIT : UNSApress
TAHUN TERBIT : November 2015
TEBAL : 145 Halaman 13,5 cm x 20 cm
ISBN : 978-602-71176-5-5
Sumber : Mingguan Kompas, download 3 Feb 2021
Senin, 01 Februari 2021
BELAJAR AGAR TIDAK MUDAH JADI KORBAN BUJUK RAYU POLITISI
Judul: Komunikasi Politik dalam Masyarakat tidak Tulus
Penerbit: Prenanda Group
Tahun: 2020
Tebal: 198 halaman
Bahkan lebih kencang terjadi pembelahan di dunia maya, khususnya di Twitter yang ditandai perang tanda pagar (tagar) atau hashtag. Kedua pendukung capres saling menaikkan tanda pagar demi menaikkan popularitas kandidat yang disukainya.
Kondisi itu juga dibarengi dengan saling serang pribadi dan caci maki yang mewarnai media sosial (medsos). Bahkan ada yang sampai memutus pertemanan gara-gara terlalu semangat membela capres yang didukungnya.
Kedua pendukung capres seolah lepas kendali ketika mencoba mempromosikan kandidat di dunia maya. Etika tidak dijaga. Semua uneg-uneg ditumpahkan tanpa disaring. Hal itu membuat masyarakat ikut terbawa suasana perebutan kekuasaan.
Komunikasi Politik dalam Masyarakat tidak Tulus hadir untuk menganalisis praktik elite politik, yang manuvernya bisa ikut menyeret emosi di akar rumput. Buku ini berisi 43 artikel yang sudah dimuat di berbagai media, yang isinya memang tidak jauh dari dunia politik.
Meski ada beberapa tulisan yang peristiwanya sudah berlalu sehingga informasi yang disajikan terkesan ketinggalan zaman, namun bagi pembaca hendaknya hal itu malah bisa dijadikan media pembelajaran. Bukan peristiwanya yang menjadi fokus utama, melainkan konflik di dunia politik yang perlu dipelajari supaya masyarakat tidak menjadi korban politisi yang hanya mengejar ambisi pribadi.
Salah satu yang mendapat sorotan penulis adalah peran parpol yang begitu dominan dalam perebutan kekuasaan dari level pusat hingga daerah. Parpol berperan strategis dalam kehidupan kenegaraan Indonesia, karena setiap kandidat yang ingin maju sebagai anggota dewan, wali kota/bupati, gubernur, maupun presiden dan wakil presiden harus diajukan parpol.
Untuk menjadi kepala daerah memang bisa lewat jalur independen, namun hal itu butuh persyaratan administrasi yang berat sehingga sulit dipenuhi. Di sinilah peran penting parpol sebagai kendaraan dan tiket calon yang ingin menjadi kepala daerah maupun kepala negara.
Sayangnya, parpol yang bertugas merekrut dan mencetak kader terbaik di bidang politik seolah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Buktinya, dalam setiap perhelatan pilkada kerap kali parpol masih mengusung eks narapidana maupun tersangka korupsi. Apa parpol kekurangan orang untuk diusung menjadi calon pemimpin? Mengapa dengan banyaknya figur di masyarakat yang bersih dan memiliki rekam jejak teruji, parpol malah memprioritaskan orang bermasalah?
Tentu saja ada berbagai pertimbangan yang dipilih pimpinan parpol hingga rekomendasi jatuh ke tangan orang yang pernah atau sedang tersangkut kasus hukum. Bisa pertimbangan uang, kekerabatan, koneksi, maupun faktor pragmatis, yaitu peluang menang lebih besar. Toh, masyarakat juga abai juga meski calon yang dipilihnya pernah terjerat hukum, faktanya tidak sedikit daerah yang kandidat seperti malah menang.
Namun, di sinilah yang perlu dikritisi. Jika parpol masih menutup mata dengan pemilihan calon pemimpin untuk dimajukan duduk di kursi legislatif maupun eksekutif maka konsekuensinya bukan orang terbaik yang mengelola pemerintahan. Padahal, ada adagium maju mundurnya sebuah negara ditentukan dengan kualitas parpol pula.
Selama ini, politisi hanya menjadikan masyarakat sebagai pendulang suara semata. Ketika keinginan sudah diperoleh, masyarakat dilupakan begitu saja. Jangan sampai masyarakat menjadi korban ambisius seseorang yang berupaya meraih kekuasaan dengan segala cara, namun malah nantinya tidak pernah mewujudkan aspirasi masyarakat.
Hal seperti itu sebenarnya sudah berulang kali terjadi. Namun, masalahnya juga tidak sedikit yang enggan belajar dari pengalaman sebelumnya. Alhasil, lagi dan lagi masyarakat menjadi tumbal kepiawaian mereka yang beratraksi di panggung politik.
Belajar tentang politik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk itu, hendaknya setiap orang tak mudah terjebak rayuan gombal politisi yang siap menawarkan berbagai janji setinggi langit. Pasalnya sudah terbukti, mereka kerap lupa dan abai dengan kepentingan masyarakat ketika apa yang diinginkan sudah tergapai, entah itu jabatan, pangkat, atau kekuasaan.
Mengapa hal itu terjadi? Semuanya tidak bisa dilepaskan dari kondisi Indonesia yang mengalami involusi perubahan politik. Ada perubahan tetapi tidak banyak menyentuh subtansi isi. Itu disebabkan karena berkembangnya komunikasi politik dalam masyarakat yang tidak tulus. Komunikasi politik model itu ibarat lingkaran setan yang saling berkait dan tak mudah untuk diurai.
Buku karya dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengkaji berbagai sudut pandang peristiwa di sekitar masyarakat untuk dijadikan dasar kerangka kebijakan di masa datang. Buku ini juga sebagai salah satu upaya ke arah itu, meskipun rumit, pelik, dan jalan berliku. Tentu setiap orang tidak ingin menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama tiga kali.
Begitulah kewaspadaan patut ditingkatkan bagi mereka yang skeptis dengan politisi supaya tidak sakit hati ketika janji yang diucapkan tidak pernah direalisasikan. Dari buku ini, pembaca bisa belajar memahami politik secara integral supaya tidak mudah menjadi korban rayuan politisi.
Dikutip Hari Selasa 3 Februari 2021 oleh admin.



