foto

foto

Kamis, 11 Februari 2021

PRESIDEN JOKOWI MINTA DIKRITIK KETIKA MASYARAKAT KETAKUTAN.

                                 
MEREKA YANG KRITIS TERANCAM  DELIK.  

IBA TIBA SAJA PRESIDEN JOKOWI dalam sambutan resminya di acara  yang diselenggarakan oleh Pemerintah  beliau meminta agar masyarakat tak segan segan memberikan kritik yang sepedas pedasnya kepada Pemerintah, karena memang Pemerintah merasa butuh untuk di kritik. Para penganmat sesungguhnya sangat beralasan untuk meragukan keseriusan permintaan Presiden ini, mungkin karena mereka menganggap Presiden masih memerlukan  adanya upaya penyamaan dan penyeragaman sikap. Bukankah masih ada sejumlah  yang dianggap kurang sejalan dengan Pmerintah yang terpaksa berurusan dengan pihak penegak hukum.  Apakah pidato Prweisden terkait ini akan dijadikan acuan  bagi semua dalam bersikap terhadap  siap kritis masyarakat. Atau ini hanya sekedar penyusunan atau permulaan dario strategi baru. Bahwa yang dibolehkan adalah kritik kepada Pemerintah kritik terdap tokoh itu akan dilarang. Atau kemana aoarah pembicaraan Presiden, kita masih menunggu bagaimana sikap para pe,mbantunya, apakah mereka memiliki cara sikap yang tetap, atau mereka mengalami perubahan, dan kalaupun ada peruhab  harus kita tunggu pula ke mana arah perubahan itu. 

Saya teringat ketika dahulu mengikuti pelatihan penulisan kebdayaan, pada masa Orde Baru, salah satu materi ajar yang kami terima adalah tentang bagaimana sejarah itu di tulis,, narasumber adalah salah satu Departemen yang sangat vital. Narasumber mengatakan dalam menulis sejarah ada beberapa pertimbangan, antara lain tulisalah sejarah itu dengan (1) (se) Bagaimana adanya, (2) Bagaimana sebenarnya, (3) Bagaimana sebaiknya.  Kami seperti  ada pengarahan, apadal tidak, kami bebas se bebas benanya. Tapi kami pada saat itu merasa lebih baik tak usah tanya.  Tetapi seusai acara baru banyak dioantara peserta seperti berebut bicara layaknya. 

Tetapi dalam segala hal kami memang pada saat itu haruis tahu tentang yang sebenarnya, tetapi harus mendukung yang sebaiknya, jangan terlalu lugu dalam bersikap szebaiknya. Tak ada  ada Penguasa yang tak bisa turun. Buktinya Orde Baru yang demikian kuat itu akhirnya tumbang juga.  Dan dalam masa Orde Baru ada seorang sahabat saya yang banyak diminta untuk  menjadi Penceramah dan juga diminta menjadi Khatib. Namanya aladlah Alm Zubaidi Mastal, Dia menjadi Pengeritik penguasa pada saat itu. 

Suatu saat dalam sebuah acara Beliau dpanggil oleh Alm. Buya Masydulhaq, Beliau meminta memanggil Ustd. Zubaidi  merndekat, tetapi karena  untuk menuju Buya, beliau harus meliwati tempat saya duduk, lalu saya di jawil untuk ikut menghadap Buya, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan.  Ternyata benar. Beliau menegur alm Zubaidi, kata beliau  " ... saya tak melarang dan tidak mengarahkan ananda menyampaikan apa dalam Khutbah atau ceramah, hanya satui permintaan saya, setiap kali ada pernyataan, maka ucapkan juga atau bacakan al.Quran atau hadis sebagaui alasannya....., kalaupun ada pihak yang ingin menyelahkan ananda, karena akan berhadapan denga Allah dan Rasulnya. 


Selasa, 09 Februari 2021

TAMPA MEMILIKI DATA YANG SAHIH, TAK PERLU MELIBATKAN DIRI DALAM KONTROVERSI ANTARA KEPOLISIAN DENGAN PENGACARA USTAD MAHER.


SEMULA KITA BERHARAP TAK ADA kontroversi dalam meninggalnya Ustad Maher Attaulibi tadi malam. 

ULAMA ITU WAJIB HUKUMNYA MENYAMPAIKAN KEBENARAN

WALAUPUN HUKUMAN MATI ANCAMANNYA, 
APALAGI SEKEDAR MATI DI RUMAH SAKIT 
ATAU RUMAH  TAHANAN

ULAMA ITU DITEMPATKAN  beberapa derajat di atas manusia lainnya termasuk para "aabid, atau ahli ibadah sekalipun. Maka sudah sewajarnya ilka para ulama menggasaikan waktu, tenaga, pikiran uang, harta dan kekayaan lainnya untuk menyampaikan kebenaran agar dipahami ummatnya dilaksanakan serta dipertahankan. agar kebenaran seperti yang diajarkan Allah melalui rasulnya, tetap terjunjung tinggi dalam kehidupan Ulama harus mengawal kebenaran itu walupun hukuman mati sebagai ancamannya, apalagi cumah mati di rumah sakit ataupun di rumah tahaman. Di manapun kita berada, jika sudah sampai saatnya, maka kita dipastikan akan mati. Seorang ulama  tak pernah takut mati, karena kematian adalah jalan menuju Allah, semua orang mati disebut berpulang ke rahmatullah. Oramh yang takut matai adalah orang yang menyembunyikan penghgianatannya kepada Allah. 

Sampaikanlah segala sesuatunya dengan baik utamanya sampaikanlau ajaran Allah kepada ummat di ruang privat atau iunternal Islam. Ketahuilah kita hanya boleh memahi seseorang yang telah menganiaya kita. jika sudah terasa sangat menyakitkan, makilah sepantasnya. Walaupun nanti yang dipertontonkan kepada orang banyak hanya maki makinya saja.Itupun fitnah namanya. Tetapi laksanakanlah dakwah itu sesuai aturan Islam. Kita boleh berbeda pendapat dengan non muslim, dengan orang kafir, berda pendapat dengan mereka yang cenderung munafik. Tetapi lakukanlah perbedaan itu sebaik mungkin dan jangan menyimpang dari garis yang dicontohkan Rasulullah dalam berdakwah. Tegaslah kepada orang kafir, dan kasih sayanglah kepada sesama Muslim. 

Kadar keulamaan seseorang itu sangat terkait dengan komitmen nya kepada kepada Al-Quran dan Hadits, sejak dahulu menjadi ukuran mereka adalah jumlah hapalannya, al-Quran dan hadist bagi mereka tak cukup mengerti tetapi harus baik hapalannya. Sehingga pada saat mereka pinsanpun maka kutipan al quran dan hadislah yang meluncur dari penuturannya di luar kesadarannya. Ada beberapa batasan yang harus dipatuhi para ulama antara lain : (1)  Untuk mengembangkan keilmuannya selain memang haruis telah menuntaskan  studi kitab klasik, dia mengambangkan ilmu keislamannya  melalui penelitian lapangan. tentu saja asgai sumber data naka sampel serta mrtode sangat menentukan akan kualitas pengetahuan, sehingga tidak dipenuhi dengan berbagai opini,apalagi hanya sekedar praduga. Walaupun itu semua sebenarnya sangat terkontrol oleh Al-Quran dan haddits yang sangat terpelihara.
 
(2) Pengembangan keilmuan Islam tidak memiliki tradisi  untuk melalukan pengkajian agama lain atau kelompok di luar Islam karena tak diketemukan  nash Al Quran dan hadis yang meninspirasi untuk memata matai sesama ummat Islam apatah lagi untuk memata matai pihak luar Muslim. Karena pada hakikatnya Islam tidak dikembangkan secara ekspansionis. Walaupun dalam sejarahnya Islam beberapa kali terlibat dalam peperangan baik kecil maupun besar besar. Bahkan berhasil mengalahkan dua super power pada saatnyam yaitu Rumania dan ;;;;;;;   namun sejauh itu peperangan pada saat itu semat sebatas mempertahankan diri bukanuntuk menjajah. Tentu sangat berbeda dengan apa yag dilakukan oleh Yahudy Amerika dan berbagai sekutu serta kelompok Orientalis lainnya.  K ad muncul tulisan atau buku yang berisikan sesuatu diluar ketrerkaitan dengan ajaran Isian meliputi fikih tauhid sejarah Islam Pendidikan Islam maka umnya karya semacam itu bukan merupakan sestu yang lazim dikutip, dikecualikan bagi tulisan karya penulis yang pernah menulis banyak buku yang memang telah menjadi kutipan banyak pihak sebelumnya,
 
(3). Allah melarang membuka 'aib seseorang  dan siapa yang membuka aib orang lain maka aib nya akan dibukakan Allah nati di Akherat kelak. 

Jangan saling mencari aib (4) Jangan saling bersaing kemegahan dunia (5). Jangan saling mendengki  (6) Jangan saling membenci  (7) . Jangan saling bermusuhan. Tentu saja

Sabtu, 06 Februari 2021

MEMELIHARA AMANAH

MANAKALA PARA PEMIMPIN TAK MAMPU MEMEMLIHARA AMANAH MAKA  HANCURLAH SEMUANYA. 


JANGAN MAIN MAIN dengan amanah yang diberikan kepada seseorang terlebih dengan status kepemimpinan dan tanggungjawab diletakkan dipundaknya. Lembaga apapun yang keberadaanya legal, maka amanah yang diemban oleh pengemban itu harus dijalkankan dengan sebaik baiknya agar bermanfaat keberadaanya  oleh semua baik ada pada lingkup lembaga itu secara internal dan juga bagi kelompok lainnya eksternal, karena kekeliruan dan apalagi pelanggaran pelanggaran hatta dikelompok internalpun sejatinya tak akan menutup kemungkinan akan keterkaitan imbas walupun sangat tergantung dengan permasahan dan besarnya masalah. Dianggap permasalahan besar manakala menharuskan adanya perubahan perubahan yang terjadi dengan melanggar aturan aturan yang ada. Pelanggaran pelanggaran yang terjadi dalam skala inter tetap saja membuika akibat buruk secara eksternal. 

Partai Demokrat itu adalah Partai besar, pernah memenangi PIlpres, dan sekarang sedang menghadapi maslah besar dan itu bukan masalkah internal, karena dalam masalah itu ternyata jiga hadir insur unsur eksternal. Masalah  yang dihadapi oleh Partai Demokrat sekarang ini bukan masalah internal melainkan juga eksternal, masalah itu bukan masalah kecil, melainkan masalah besar yang dapat menganggu kenyaman bersama, dan lebih serius lagi akan terjadi sebuah pengghianatan atas amanaha yang diemban, di mana keberhasilan dan kegagalan sdelain akan berpengaruh pada tatanan kehidupan bersama, dan juga akan terkait dengan keridhoan Allah Swt. Maka dalam hal ini sesungguhnya mereka membutuhkan kehadiran ulama. 

Keliru ... !!!  orang yang mengatakan  bahwa agama tak boleh hadir  dalam kancah politik, jangan bawa bawa agama dalam politik, karena politik itu kotor, janganlah nodai agama dengan kebusukan politik. Pernyataan itu sekilas seperti sangat simpatik dengan kesucian agama, tetapi itu sesungguhnya racun yang sangat memabukkan bahkan mematikan. Yitu mematikan ruh keagamaan dari nurani politisi. Dilain pihak justeru dikembangkan akibat buruk yang memang sudah lama dihembuskan oleh Yahudi - Amerika bahwa agama itu adalah sumber intoleran, sumber radikalisme, dan berbagai gelaran buruk lainnya. Lalu hadir pula pihak pihak yang berusaha menggatuk gatukkan radikalisme dan intoleran dan berbagai prilaku buruk lainnya dengan berbagai gaya para ulama dalam memperingatkan ummat untuyk  meningkatkan ketakwaan kepada Allah.Swt. 

Ada berbagai gaya ulama dalam mengajak ummat ke jalan Allah. diantara para ulama itu nampaknya ada pihak pihak yang mengintai untuk menjerat para ulama ke dalam delik delik yang bisa menjerat para ulama itu, bahkan berusaha setiap hari untuk menghujani para ulama itu dengan kata kata buruk untuk menghinakan. Kita menyesalkan bahwa itu banyak dilakukan oleh ummat Islam,  sepertinya mereka lupa apa yang dikatakan Rasul bahwa siapa yang menyakiti Ulama berarti menyakiti Rasulullah, dan siapa yang menyakiti Rasulullah  berarti dia juga sedang menyakiti  Allah Swt.  Astaghfirullahul adzim. 

Wallohu a'lam bishowab. 

Jumat, 05 Februari 2021

BANYAKNYA ULAMA YANG MENINGGAL BERARTI PERINGATAN BAGI KITA YANG TINGGAL

                   MENINGGALNYA ULAMA DALAM WAKTU
YANG HAMPIR BERSAMAAN  BAGI KITA   MEMILIKI MAKNA PELAJARAN YANG MENDALAM 


BARANGKALI BERITA  yang paling mengejutkan adalah  ketika dikabarkan bahwa sudah belasan Kiyai di lingkungan NU meninggalkan karena terpapar Corona. Meninggalnya mereka  rupanya tak tertcium media termasuk juga medsos yang gemar menyiarkan pemberitaan pemneritaan seksi, berita ini baru diketahui khalayak ketika ada seorang tokoh menyatakan rasa belasungkawa mendalam atas kepergian para Kiyai dari NU itu. Ternyata berita kepergian para Kiyai untuk selamanya itu  bertam lagi dan bertambah lagi, belakangan baru meninggalnya kiyai itu menjadi berita yang sensitif, karena kepergian para Ulama dalam waktu yang hamir bersamaan itu adalah merupakan pertanda sebuah teguran kepada ummat. manusia. 


Bagi siapa saja diantara kita yang sempat memiliki kedekatan yang dengan beberapa ulama dalam waktu yang bersamaan maka kita akan merasakan benar bahwa antara satu ulama dengan ulama lain itu ternyata memiliki spesialisasi  keahlian yang berbeda antara satu dengan yang lain, tetapi masing masing kelebihan itu memiliki makna yang saling mengisi. Sehingga kita dalam yang juga memiliki pemikiran pemikiran dan membutuhkan referensi dalam berfikir, maka kita akan mengetahui betul untuk berfikir tentang ini (sesuatu) maka kita harus mendekati ulama yang ini (seseorang) dan ketika membutuh infoa yang mendalam tentang lain hal, maka kita akan lebih tepat bertanya kepada ulama yang lain lagi. Bukankah kita tahu sebuah pristiwa yang memiliki kekhususan juga membutuhkan pengetahuan dan keahlian yang semakin spesialk. Kita juga akan dibuat tercengang karena keanekaragama spesialisasi diantara para ulama itu terjadi melalui berbagai respon yang duseriusi para ulama, dan pada saat itu para ulama menemukan kekhususannya masing masing. Dan karena itu poula maka manakala ada seorang ulama yang meninggal maka kita mengalami kehilangan yang amat sangat, karena spesialisasi masing masing ulama itu terjadi dalam proses panjang. Panjang sekali. 

Jangan kaget dengan sikap para ulama itu, pernah terjadi ketika seorang hamba bertanya tentang sesuatu terkait dengan dalil, huykum serta manafaat dari sesuatu yang ditanyakan itu. Ulama besar dan mumpuni yang telah mengkhatamkan berbagai kitab kitab yang ditulis oleh Ulama yang terkenal juga sebagai seseorang yang 'abid (ahli ibadah). Ternyata pertanyaan yang sekilas terasa ringan itu ternyata tak spontan dijawabnya, ulama itu membutuhkan waktu sampai sebulan lebih untuk menjawabnya. Pada saatnya ulama itu mencari sipenanya, untuk menjelaskan mengenai dalil yang menjadi alasan, cara melaksanakannya, serta nabfaat yang an dirasakan bagi yang melaksanakannya. Dalam satu perjumpaan maka pertanyaan itu di jawabnya tuntas, sehingga sipenaya merasa benar benar faham. Mengapa Ulama yang satu ini membutuhkan waktu yang demikian lama?. Ternyata si penanya menanyakan sesuatu yang belum sempat dilakukan oleh ulama kesihor itu. Maka Ulama itui harus melaksanakannya dan pelaksanaanya membutuhkan biaya, dan iulama itu tak memiliki uang kes sebanyak itu sehingga Ia harus bekerja keras guna mendapatkan uang sebnayk itu. Ulama itu tak mengatakan sesuatu, atau mengajarkan sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Allash tidak suka kepada seseorang yang mengajarkan sesuatu yang baik tetapi yang bersangkutan belum pernah melaksanakannya. 

Bagi kita yang tak memiliki kedekatan dengan beberapa ulama sekaligus dalam waktu bersamaan, kita sering terkecoh dengan apa yang dilakukan oleh para ulama. Ada sejumnlah ummat yang manakala mengalami sesuatu yang sangat berat konsultasi dengan ulama, tetapi hal itu memeang sesuatu yang membutuhkan biaya banyak. Di luar dugaan kita ternyata  ulama berkenan juga membantu orang yang kesusahan itu, sehingga kita mengira ulama itu banyak uang. Apalagi dengan demikian entengya uang itu keluar dari sakunya.  "Pakai saja uang ini, selamatkan keluargamu, embalikan uang ini ika engkau telah mendapatkan rejeki, tetapi jika kau tak mampu mengembaliklanggya, janganlah menjadi beban pikiranmu, sudah saya ikhlaskan sebelumnya" itu kata ulama itu dengan segala kasih sayang. Lalu siapa yang tak mengatakan bahwa ulama itu kayaraya.   

Tetapi sebaliknya jangan heran dan terkejut ketika ulam itu meninggal  dan atas kedekatan kita kepada ulama itu dan keluarganya, banyak sekali ulama ulama itu ketika dia telah wafat ternyata saldo tabungannya persis seperti tabungan anak kecil, saldonya ternyata hanya beberapa juta saja. Info yang kita terima itu membuat mata kita terbeliak, kita tak menyangka ternyata uangnya cekak. Itulah resiku dari ulama yang sangat mencintai anak didiknya. Banyak anak didik itu terdiri dari mereka mereka yang sedang membangun fondasi keutuhan keluarganya. Ada diantara mereka yang sulit mencari pekerjaan,  ada yang bekerja dengan penghasilan yang minim, dan bahkan banyak pula yang yang mengalami PHK. Banyak mereka yang menceriterakan prihal kesulitan hidupnya kepada ulama yang didekati mereka sebagai tempat bertanya. Tetapi dilain pihak para ulama itu tak pernah malu dengan kemiskinan mereka. Mereka mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Siti Khadijah isteri Rasulullah SAW.  Wanita yang terkenal cantik dan kaya itu ketika meninggal hanya memiliki sebuah pakaian yang sudah banyak tambal sulamnya, kekayaan yang dimikinya telah digunakan untuk mendukung perjuangan Rasulullah. 

Andai seorang Ulama meninggal dunia, kita merasakan kehilangan dan kesedihan yang amat sangat, tetapi ketika banyak ulama yang meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan, maka itu adalah merupakan peringatan bagi kita semua, bahwa di lingkungan kita akan lmuncul orang orang orang zalim yang akan lebih menguasai situasi. Dan nanti ketika para ulama bnar benar habis dan disisakan ulama ulama yang sesat, maka itu adalah  pertanda bahwa  kiamat menjelang. 

Wallohia'lam bishowab. 

Kamis, 04 Februari 2021

BAGAIMANA MENULIS RESENSI

 Dr. HM. Zainuddin, MA

Jumat, 8 November 2013 . in Wakil Rektor I . 5186 views
Resensi adalah ulasan buku atau karya ilmiah yang diterbitkan. Istilah lain dari resensi adalah: review, tinjauan buku, timbangan buku, telaah buku, kajian buku, bedah buku, menguak turats dst. Biasanya resensi, telaah dan timbangan buku digunakan untuk sebuah surat kabar, majalah dan jurnal (media cetak), tetapi kalau bedah buku atau kajian buku untuk sebuah forum kajian. Buku atau kitab apa yang ditelaah? Sebetulnya semua buku dan kitab perlu ditelaah atau diresensi untuk memudahkan kita mengingatnya. Kepada mahasiswa hendaknya semua buku perlu ditelaah untuk kepentingan ujian, misalnya. Sebab resensi itu merupakan hasil perasan dan intisari dari buku atau kitab yang berpuluh-puluh bahkan ratusan halaman jumlahnya. Dengan diresensi diharapkan kita bisa mengetahui isi dan garis besar dari buku atau kitab tersebut dan memudahkan untuk mengingatnya. Apa bedanya resensi dengan resume? Resensi ditekankan pada, analisis dan kritik. Tetapi kalau resume hanya sekadar menyimpulkan dan mendeskripsikan secara garis besar saja. Bahkan resensi dan bedah buku perlu ada bandingan referensi lain untuk memberikan komentar terhadap buku atau karya tulis ilmiah tersebut. Jika untuk kepentingan publik (surat kabar, majalah dan jurnal) buku yang diresensi pada umumnya harus mengandung nilai: baru, menarik, kontekstual dan marketable. Buku baru artinya buku yang baru terbit (1-3 bulan misalnya), tidak diterbitkan pada tahun yang sudah lewat. Misalnya sekarang tahun 2002 kemudian yang diresensi buku tahun 2001, ini artinya sudah tergolong out of date. Disamping baru, buku yang diresensi diharapkan buku yang menarik, kontekstual dan marketable. Jenis buku apa ini? Biasanya buku ini bukan  jenis buku daras atau buku teks, tetapi buku untuk umum dan bersifat analitis–kritis terhadap persoalan yang lagi aktual dan menjadi wacana publik, baik itu menyangkut politik, hukum, pendidikan, agama dan sosial budaya. Oleh sebab itu, untuk kepentingan resensi di mass media, maka kita perlu mengetahui pangsa dan kecenderungan yang dimiliki oleh sebuah mass media itu sendiri, termasuk dalam hal ini adalah menulis artikel (kolom). Di sinilah maka tidak hanya pedagang yang harus tahu pangsa pasar, tetapi penulis juga perlu tahu pangsa pasarnya . Ya, memang ada sebuah penerbitan  (majalah atau jurnal) yang memang bisa memuat resensi buku atau kitab yang tidak baru, tetapi buku atau kitab tersebut sejalan dengan tema yang diangkat. Biasanya buku atau kitab tersebut monumental dan merupakan turas, seperti karya Weber, Marx, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Al-Mawardi dst. Jadi meski lama, tetapi karya tersebut masih diperlukan untuk publik, kepentingan akademik. Bagaimana meresensi buku? Meresensi buku di media massa sama dengan mengiklankan sebuah pruduk, oleh sebab itu perlu pandai-pandai memberi bumbu. Layaknya sales, kita mesti tahu pasar dan pandai memberikan komentar. Oleh sebab itu pihak penerbit di sini juga merasa diuntungkan karena promosi kita itu. Bahkan sebuah penerbit tertentu ada yang bersedia memberikan imbalan, seperti penerbit Gramedia misalnya. Disamping tentunya penulis sendirei merasa diuntungkan. Apa yang perlu diperhatikan oleh penulis resensi? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meresensi sebuah buku atau karya ilmiah:
  1. Menangkap grand ideas-nya. Seorang penelaah buku harus mampu menangkap ide besar yang terkandung dalam buku tersebut. Apa yang ingin diungkap oleh penulis buku itu? Apa pesan yang hendak diungkapkan?
2. Seorang penulis resensi hendaknya memperhatikan daftar isi, kata pengantar (baik yang ditulis oleh pakar atau yang ditulis oleh penerbit). Hal ini dapat membantu kita untuk memahami jalan pikiran penulis buku tersebut. Demikian juga penulis resensi hendaknya memperhatikan pendahuluan dan kesimpulan. Penulis resensi dituntut membaca cepat dan mampu menangkap makna;
  1. Penulis resensi adalah pen-syarah dari sebuah buku atau kitab. Oleh karena itu ia harus bisa memberikan penjelasan kepada orang lain. Seandainya orang lain terpaksa tidak sempat membaca buku aslinya, sudah cukup membaca resensi tersebut;
4.  Untuk judul resensi hendaknya dibuat yang menarik, simpel dan tidak terlalu panjang. 5.    Penulis resensi hendaknya memeprhatikan: a.  Judul buku; b.  Penulis buku;
  1. Pernterjemah (kalau buku terjenahan);
  2. Kata pengantar (kalau ada);
  3. Penerbit;
  4. Tahun terbit;
  5. Tebal halaman;
  6. Melampirkan foto kopi cover buku.  (Lebih kongkritnya lihat contoh     dalam lampiran ini).
                                __________________ *Disampaikan dalam Diklat Jurnalistik UAPM-Penerbitan UIIS Malang, 10-12 Oktober 2002. *Penulis adalah Ketua Unit Penerbitan  UIIS Malang.          

(Author)

ORANG INI SENANG MENYERANG ISLAM

DAYA RUSAKNYA SEMAKIN TERASA

DENGAN SEGALA KEBANGGAANNYA orang ini mengatakan semenjak dia mendalami pekerjaann ini status ekonominya melambung tinggi karena dia dibayar dalam jumlah yang sangat besar, kita tidak terlalu ingin merespon bahwa itu semua dilakukannya dalam rangka memenangkan Jokowi untuk berebut kursi Keperesidenan, itu pengakuannya, yang tampa pengakuannyapun orang akan mengetahuinya dari ucapannya. Terserahlah itu mungkin urusan politik yang tak ingin saya ikut campuri.  Sekali lagi bukan itu yang menjadi sesalan kita, tetapi kita sangat menyesalkan serangan serangannya kepada Islam dengan dalih apapun. Karena akibat serangan orang ini terasa benar ruginya. 

Walaupun yang dibela belanya sudah berhasil menang dan bahkan sudah duduk di Kursi yang sangat dihormati itu bahkan ini sudah periode kedua. Yang ingin kita sesalkan mengapa  demikian gencarnya dia menyerang Islam, tokoh Islam dan bahkan perjuangan Islam. Mungkin alasannya ada juga diantaranya yang benar atau masih perlu didiskusikan  serta ditelusuri dalil dalil yang ada. Perbedaan dalam Islam itu umumnya masing masing memiliki dalil yang berdasarkan al-Quran dan al-Hadits. Saya sendiri meragukan kemampuan orang satu ini untuk mendiskusikannya secara konsisten dengan bersandar kepada nilai nilai syar'i. 

Kita tidak ingin mempersoalkan dia dibayar berapa,  pake uang  rakyat atau uang pribadi, yang kita sesalkan mengapa yang membayarnya tidak segera mencegahnya ketika mulai menyerang Islam dengan menggunalkan bayaran itu. Dia akan mempertanggungjawabkan prilakunya diakherat nanti, menghadapi mahkamah yang maha adil, tidakkah pihak yang membayar itu menyadari bahwa juga akan ikut mempertanggungjawabkan atas kegiatan orang ini yang menyerang Islam. Pada saat itulah akan dimintai pertanggung jawaban berapa uang yang dibayarkan dan digunakan untuk menyerang Islam, darimana asal uang itu, karena hal tersebut sangat erat sekali untuk keadilan siap siapa saja yang terlibat dalam penyerangan terhadap agam,a Islam. Karena tidak banyak orang Islam yang mampu berdalih untuk membuktikan penyerangannya kepada Islam, tetapi terlalu banyak orang yang memiliki kemampuan untuk merasakannya. 

Terserahlkah apa yang terkait dengan hukum hukum di dunia, tetapi kita sangat prihatin ketika dia harus mempertanggungjawabkannya di akherat kelak. Marilah kita doakan saja agar kesalahnnya bisa diringankan Allah Swt. karena walaupun bagaimana besarnya keslahannya orang ini toh sepengetahuan kita juga menganut agama Islam. Berarti sesungguhnya dia Saudara kita. 

Wallohua'lam bishowab.