'
INSYA ALLAH rubrik ini akan muncul secar berkala rubrik ini akan muncul secar berkala
'
INSYA ALLAH rubrik ini akan muncul secar berkala rubrik ini akan muncul secar berkala
TIBBUL QULUB
Ibnu Thaimiyah diakui oleh banyak pihak telah berhasil membantu kita, dan masih banyak orang yang menjadikannya acuan, dan sudah tak terbilang lagi banyaknya mahasiswa yang dalam menyusun karya tulis sebagai Tugas Akhirnya gemar mengutip ngutip pemikiran Ibnu Taimiyah ini. Beliau mengatakan bahwa hati, jiwa dan ruh kita itu, tak terlepas dari sedang mengalami beberapa situasi, selengkapnya adalah kondisi Sehat, Sakit, Sakit, Mati, Hidup, Tidur. Hati kita akan menempati salah satu kondisi itu dan mari saja kita identifikasi sendiri, maka agar kita tak kesulitan untuk kembali memposisikan hati kita agar dalam posisi sehat dan baik baik selalu. maka kita harus jujur kepada diri kita sendiri terlebih dahulu.
Hati kita akan sehat bila dalam segala hal kita memiliki keyakinan dan ketetapan hati, kita yakin akan kebenarannya dan kita konsekuen atas keyakinan itu. Hati kita akan menjadi sakit bila kita ragu ragu bersikap lalu kita tidak bisa melaksanakan dengan sempurna atau kita laksanakan sesuai dengan aturan tetapi kita tidak meyalini sepenuh hati atau meragukan, atau setidaknya tidak mengetahui apa yang sebenarnya, maka hati kita pada saat itu sedang sakit.
Walaupun hati kita sakit akan masih memiliki untuk sembuh dan sehat manakala kita memiliki banyak pengetahuan dan masih mau menambah ilmu pengetahuan, dengan bertambahnya ilmu pengetahuan maka seseorang seperti mendapatkan semangat hidup yang baru lagi. Jagalah hati agar hati kita tidaj tertidur
'
KOMPAS LIMBUNG SEBAGAI PELINDUNG
SETIDAKNYA waktu mahasiswa dahulu bersama kawan kawan akan senang sekali menjadikan beberapa media massa sebagai ukuran objektivitas sebuah berita, diantara media itu maka sekarang nampoaknya Kompas masih berusaha eksis, tetapi di lain pihak setelah usia pensiun dan menua ini tak lagi ingin lagi rasanya susah susah mencarikan imbangan dalam mencari kebenaran kita kita ini semestinya memang mencari imbangan kebenaran itu adalah mendekat kepada ulama, dengan catatan ulama bersangkutan tak merapat kepada dunia politik dan kekuasaan Karena ulama yang merapat kepada politik dan kekuasaan sejak zaman klasik diketahui akan sulit untuk berbicara sesuai dengan yang sebenarnya.
Kali ini Rocky sangat berhati hati karena dia takut salah ucap ... kata Dia Kompas telah ikut mewariskan Ke .... (gak jadi) ... Memalukan karena apa yang di beritakan oleh Kompas dengan berta yang muncul ulang tetapi dengan judul yang beda tetapi isinya sama. Dulu kita bangga demgam berita berita Kompas katanya, sekarang karena ikut ikutan mengasuh Penguasa akhirnya suka dengan berita yang mengekor, maka beritanya Kompas ini Lebih Pantas disebut berita Kempes, kata Rocky sdinis.
Marilah kita lebih berhati hati dengan berita minstrim yang sedang menunjukkan ketidaknetralannya. Kita sebagai jama'ah masjid mengharap kepada takmir agar mampu menghadirkan ulama yang konsisten tidak justeru membuat kita kesasar walaupun, atau walaupun kejujuran itu justeru menghambat untuk mendapatkan keuntungan finansial. Maka akan lebih sulit lagi bagi kita untuk menemukan kebenaran pada saat ini memang bukanlah sesuatu karena justeru ada pihak pihak
Bisa jadi memng pendidikan Islam itu dibangun dengan dasar hapalan, ya ... memang mengerti itu dalam proses pengertian selalu akan terjadi dalam sebuah proses pemikiran pendidikan, tetapi sejak dahulku Islam itu mengharuskan para murid atau santrinya harus hapal. Ya ... sejak zaman Rasul dahulu sejumah sahabat pengikut Rasul dibebani untuk menghapal apa apa yang disampaikan oleh Rasul sebagai wahyu dari Allah via Malaikat, setelah Rasul menerima Wahyu, Rasul hapaldengan wahyu yang telah diterimanya, lalu dibacakan wahyu itu dihadapan para sahabat dan sejumlah sahabat berhasil menghapalnya,. Para sahabat itu memiliki kebiasaan meminta disimak hapalannyam maka terkenallah dengan segala kemasyhurannya bagi mereka yang memiliki hapalan yang sempurna. Dengan hapal itulah Al Quran sampai ke kita.
Mereka yang memiliki hapalan yang baik dan diakui kesempurnaannya oleh para penghapal lainnya, lalu mengangkat anak anak didik guna menhapal dan menyimpan al Quran juga dalam hapalannya. Pada zaman sahabat terjadilkah sebuah peperangan dan banyakj sekali para penghapal al Qurabn yabg gugur dalam mempertahankan Islam, pada saat itu terjadilah kekhawatiran akan semakin berkurangnya jumlah penghapal, maka pada saat itulah munculnya gagasan unuk menuliskan Al Quran. Dan akhirnya Alquran bisa dengan mudah menyeberabgi lautan, mendaki gunung dan menuruni lurah sehingga al Quran akhirnya sampai juga di kita semua.